Budaya Jawa Timur

Mengenal Keindahan dan Kearifan Lokal Provinsi Jawa Timur

Gambar tugu Pahlawan

Keberagaman Budaya

Budaya & Tradisi Jawa Timur

Tari Remo

Tarian penyambutan khas Jawa Timur.

Ludruk

Teater tradisional dengan humor dan kritik sosial.

Reog Kendang

Tari khas Surabaya dengan tabuhan kendang.

Karapan Sapi Mini

Tradisi balapan sapi khas Jawa Timur.

Wayang Kulit Jawa Timur

Wayang khas dengan dialog cepat dan tegas.

Kota Penuh Cerita

Kuliner Khas Jawa Timur

Rujak Cingur

Salad tradisional khas Surabaya.

Lontong Balap

Lontong dengan tauge dan lentho.

Sate Klopo

Sate dengan kelapa parut khasnya.

Rawon Surabaya

Rawon

Sup daging dengan kuah hitam khas kluwek.

Tahu Tek Surabaya

Tahu Tek

Tahu goreng, kentang, dan lontong dengan bumbu petis.

Sate kerang

Sate Kerang

Kerang berbumbu pedas manis yang gurih.

Tahu campur

Tahu Campur

Tahu, daging, mie, selada, dan kuah petis.

Surabaya Kota Pahlawan

Cerita Rakyat Jawa Timur

Asal Usul Reog Ponorogo

Terdapat seorang putri bernama Dewi Sanggalangit yang memiliki paras cantik. Ia mengadakan sayembara untuk menikahinya dengan persyaratan, tertentu yaitu mengadakan pertunjukan yang lengkap sesuai dengan permintaannya. Karena persyaratan yang diajukan tampak sangat mustahil, maka semuanya mundur kecuali Singa Barong dan Kelana Swandana. Keduanya tampak saling serang, agar bisa memenangkan sayembara. Kelana mengubah Singabarong menjadi harimau yang terdapat burung merah di kepalanya. Ia melakukan hal tersebut dengan menggunakan kekuatan sakti untuk bisa memenuhi sayembara dan kemudian putri kerajaan akhirnya memilih Kelana. Sejak itulah pertunjukan serupa terus digelar dengan nama Reog Ponorogo.

Jaka Prabangkara

Legenda dari Jawa Timur ini menceritakan tentang masa pemerintahan raja Majapahit yang bernama Prabu Dewaraja. Namun, Prabu Dewaraja sendiri lebih di kenal dengan nama Prabu Brawijaya V. Tokoh Prabangkara menggambarkan sikap dan perilaku manusia yang unggul. Kemuliaannya, bukan hanya karena merupakan putra raja. Melainkan karena keahlian yang di miliki dan perilakunya yang mendekati sempurna. Kisah ini, baik untuk di ajarkan kepada anak-anak mengenai toleransi kehidupan yang multikultural. Hal ini karena di kisahkan sejak zaman dahulu, sudah hidup berdampingan dalam keanekaragaman. Baik dari segi budaya, asal-usul, maupun agama. Dengan demikian, setiap anak akan belajar untuk toleransi sejak dini terhadap berbagai perbedaan..

Ande-Ande Lumut

Legenda dari Jawa Timur ini sebenarnya hadir dalam beberapa versi. Versi pertama mengisahkan tentang seorang putri bernama Dewi Candra Kirana yang merasa sangat sedih. Kesedihannya tersebut di karenakan suaminya pergi. Oleh karena itulah, akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan istana dan berusaha mencari suaminya. Ia lalu menyamar menjadi seorang perempuan desa biasa. Di tengah penyamarannya, ia kemudian bertemu dengan Mbok Rondo Kawulusan, seorang janda kaya raya. Kemudian datanglah kabar bahwa terdapat seorang pria tampan yang sedang mencari seorang istri, bernama Ande-Ande Lumut. Banyak gadis yang mendaftar termasuk anak-anak Mbok Rondo. Dewi Candra Kirana sendiri di angkat sebagai anak dan di beri nama Klenting Kuning. Untuk versi kedua mengisahkan sebuah kerajaan yang ingin di persatukan dengan menikahkan pangeran dari kerajaan Jenggala dan putri dari kerajaan Kediri. Raden Panji Asmarabangun dari Kerajaan Kediri sedangkan Dewi Sekartaji dari kerajaan Kediri.